Cerita Tentang Tuan Sastro Dan Mobil Kesayangannya

IMG_20130625_181501Pembaca yang budiman, kali ini saya akan menceritakan kisah yang lain dari kisah-kisah yang pernah saya ceritakan sebelumnya. Ini adalah kisah tentang sebuah mobil tua. Uncle Ben, demikian pemiliknya memberi nama. Karena sehari-harinya Uncle Ben biasa nongkrong di lingkungan budaya Betawi, maka ia kerap juga dijuluki Bang Ben. Namun demikian penulis lebih suka menyebutnya Uncle Ben di blog ini karena dia bule. Uncle Ben adalah sebuah spesies dari Mercedes-Benz type W124 keluaran tahun 1991. Type W124 di Indonesia sering disebut Boxer. Mungkin karena bentuknya yang boxy alias cenderung kotak. Sebenarnya saat tulisan ini dibuat Uncle Ben baru berusia 23 tahun. Mungkin belum tua-tua amat untuk ukuran umur sebuah mobil, mengingat generasi Mercedes yang lebih lama seperti Tiger atau Mini masih banyak berlalu-lalang di jalanan. Namun apabila anda memperhatikan karat yang tersembunyi di beberapa bagian tubuhnya, anda akan menyadari bahwa mobil ini adalah mobil tua.

Uncle Ben mempunyai dapur pacu berukuran 2.3 liter. Itulah yang menjelaskan mengapa ia dari pabrikan secara resmi dinamai 230E. Ketika anda membuka kap mesinnya, anda akan menjumpai seonggok mesin unyu dengan empat silinder. Saya bilang unyu, karena bagi para Mercedes enthusiast mesin empat silinder itu kurang berasa Mercedes dibandingkan yang enam silinder. “Mirip mesin jahit”, demikian ledek mereka. Walau demikian, dengan sebuah mesin berukuran 2.3 liter, Uncle Ben tidak benar-benar bersuara seperti mesin jahit. Mungkin lebih cenderung terdengar gahar. Gahar tapi merdu. Ya, kira-kira demikianlah. Agak susah menggambarkan sebuah suara. Apalagi suara mesin Mercedes memang khas.

Di masa jayanya, Uncle Ben adalah sebuah tunggangan yang “wah”, atau apalah sebutan lainnya yang menggambarkan sebuah prestise dan kebanggaan ketika memilikinya. Tapi penulis ingatkan sekali lagi, itu di masa jayanya. Kini, kemewahan dan prestise sebuah Mercedes E-class yang melekat pada Uncle Ben lebih banyak tenggelam dibalik cat Pearl Grey yang di beberapa bagian mulai kusam, keropos-keropos di kolong, dan beberapa titik karat yang mulai menyebar. Namun demikian percaya atau tidak, prestise dan kebanggaan itu belum sepenuhnya hilang. Ini terbukti ketika Tuan Sastro—demikian saja kita sebut pemilik Uncle Ben sekarang—membawanya ke sebuah acara kantor di hotel ternama di bilangan Pancoran Jakarta. Ketika Uncle Ben datang dan mendapati parkiran nampak penuh, si tukang parkir langsung tergopoh-gopoh mencarikan slot parkir yang jangan harap mobil-mobil Jepang terbaru yang harganya jauh lebih mahal bisa parkir di sana. Haha.

Sudah sekitar dua tahun Tuan Sastro memiliki Uncle Ben. Ceritanya, selain hendak menjadikan Uncle Ben ini sebagai kendaraan keluarga, Tuan Sastro juga ingin menjadikannya kado ulang tahun bagi……..dirinya sendiri! Tuan Sastro ini memang nyentrik. Sebagai buruh ketik negara yang belum lama bekerja di sebuah kantor pemerintahan, ia belum mampu membeli sebuah mobil baru. Namun demikian dia memiliki cita-cita yang mulia: membeli sebuah kendaraan buat keluarga. Sehingga ketika perlu untuk bepergian—entah kondangan, mudik, atau sekedar jalan-jalan bersama keluarga tidak perlu kepanasan maupun kehujanan. Tidak pula harus membuat kantong bolong untuk menumpang sedan berargometer tiap kali bepergian. Tentu masih banyak moda angkutan lain yang lebih ekonomis seperti Metromini atau Kopaja. Akan tetapi mengingat kehidupan jalanan di Jakarta yang keras, belum lagi angkutan jenis ini mempunyai reputasi yang kurang baik di jalanan, Tuan Sastro merasa ngeri untuk membawa keluarganya bepergian dengan jenis angkutan tersebut.

Tuan Sastro ini memang benar-benar nyentrik. Ketika para seniornya sudah berhasil memelihara mobil-mobil baru semacam Rush, Xenia, ataupun Avanza—entah beli cash atau kreditan, Tuan Sastro pun tak mau kalah pamor. Karena beli mobil baru terasa mustahil bagi kondisi kantongnya yang cekak, akhirnya Tuan Sastro memutuskan sebuah pilihan yang kurang populer: membeli sebuah Mercedes bekas. Mobil Eropa bekas termasuk Mercedes-Benz memang berharga miring. Namun apabila tidak teliti, bisa-bisa masuk ke dalam jebakan betmen penderitaan yang tiada habisnya. Rekan-rekan sejawat sering menentang niat Tuan Sastro untuk meminang mobil Eropa bekas. Alasannya, “Udah ketuaan”, “Susah lho ngerawatnya”, atau  “Kantong jebol ntar jajan mulu”. Akan tetapi Tuan Sastro tetap bergeming dan tenggelam dalam review-review dan segala macam forum tentang Mercedes-Benz impiannya. Sampai akhirnya, pada suatu hari yang cerah di akhir tahun, Tuan Sastro terlihat sedang mengendarai sebuah Mercedes-Benz berwarna abu-abu. Rekan-rekannya geleng-geleng kepala.

Boleh dibilang, Tuan Sastro jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Uncle Ben. Rupanya Tuan Sastro mempunyai alasan tersendiri tentang hal ini. “Dulu waktu kecil, saya sering dibelikan mainan oleh Ibu saya. Kebanyakan mobil-mobilan. Salah satu kesayangan saya pada waktu itu adalah sebuah mobil-mobilan berbentuk sedan Mercedes berwarna abu-abu tua. Ketika saya melihat mobil ini (Uncle Ben), saya langsung teringat dengan mobil-mobilan kesayangan saya pada waktu itu”, begitu kilahnya mengisahkan cerita masa kecilnya. Demikianlah, akhirnya pada suatu siang hari yang cerah tepat satu hari sebelum hari ulang tahunnya, Tuan Sastro memboyong Uncle Ben dari pemiliknya yang lama. Tuan Sastro begitu menikmati sensasi mengendarai mobil yang bukan mobil biasa ini. Menikmati setiap deru hembusan mesinnya ketika mobil seberat 2 ton ini melaju di jalanan. Juga begitu menikmati ketika Tuan Sastro menggoyang-goyangkan setirnya ketika mobil sepanjang hampir 5 meter ini meliuk-liuk melibas tikungan gang di sekitaran komplek.

Uncle Ben saat ini memang bukanlah mobil yang sempurna. Setelah 23 tahun berlalu, Uncle Ben semakin menua dan menurun nilai ekonomisnya. Keropos serta karat bermunculan di mana-mana. Belum lagi catnya yang mulai memudar. Tapi Tuan Sastro berkilah bahwa Uncle Ben masih nyaman dikendarai. Suspensi badak-nya yang empuk serta interiornya yang masih orisinil dan tertata rapi membuat Tuan Sastro masih betah mengendarainya. Terlebih lagi logo bintangnya yang bersinar masih mampu membuatnya keliatan gaya. Walau demikian, sesuai dengan umurnya Uncle Ben mulai dihinggapi penyakit-penyakit aneh. Beberapa sudah teratasi, namun ada pula yang masih bercokol. Salah satu penyakit aneh Uncle Ben yang masih membuat Tuan Sastro pusing kepala saat ini adalah kebiasaannya yang ajaib untuk tiba-tiba nyelonong sendiri tiap kali ketemu pom bensin. Jadi ketika di kejauhan udah keliatan logo pom bensin, si Uncle Ben ini tiba-tiba nyelonong sendiri masuk ke dalam dan berhenti di salah satu mesin pengisian BBM. Aneh bukan? Kata dokter spesialis kepercayaan Tuan Sastro, penyakit aneh ini akan hilang apabila salah satu komponen di dalem mesinnya diganti dengan yang baru. Masih kata dokter, harganya sekitar sekian juta rupiah. Belum lagi penyakit-penyakit aneh lain yang mendadak mendekam di tubuh Uncle Ben. Power window yang tahu-tau macet lagi padahal sudah dibenerin, atau lampu sen yang tiba-tiba mati ketika sedang berjalan, juga penyakit lain yang sepele tetapi menyebalkan. Jadi pusing tujuh keliling Tuan Sastro dibuatnya.

Saat ini, Uncle Ben masih setia nongkrong di carport rumah Tuan Sastro. Biarpun mulai uzur, Uncle Ben adalah kendaraan andalan. Setengah nekat, Tuan Sastro pernah membawanya mudik beserta keluarga ke belahan lain pulau Jawa, menyusuri pantai utara. Hampir 1500 kilometer perjalanan ulang-alik ditempuhnya, dan ternyata Uncle Ben baik-baik saja. Itulah sebabnya Tuan Sastro semakin cinta dengan Uncle Ben. A real car for me is not solely a transporting device, but it also a thing that you can drive it with pride, with passion, and with style.” Demikian kilah Tuan Sastro menceritakan idealismenya. Itu sebabnya dia sangat menaruh hormat dengan orang-orang yang mau bersusah payah memelihara serta membangun kembali sebuah mobil tua.

Masih jauh perjalanan Tuan Sastro untuk mengembalikan kejayaan Uncle Ben yang penuh kharisma ini ke wujudnya semula seperti saat remaja. Selain penyakit anehnya yang perlu disembuhkan, Uncle Ben juga membutuhkan body scrub dengan menghilangkan karat-karatnya—syukur-syukur bisa repaint. Syukur-syukur lagi bisa ganti sepatu baru Avantgarde 16 inci saja. Walaupun istri Tuan Sastro sering berkerut keningnya tiap kali Tuan Sastro mengajak Uncle Ben ke bengkel dan berulangkali menyarankan untuk ganti mobil baru saja, tapi Tuan Sastro masih menyimpan harapan besar untuk mengembalikan Uncle Ben menjadi awet muda. Akankah cita-cita mulianya tercapai? Hanya waktu yang akan menjawabnya.

Advertisements

2 comments

  1. Ade Putra · · Reply

    Om Sastro, kalo selo Uncle Bennya dibawa ke jogja. Pingin tak poto…

    1. Ya nanti nek selo. Nek selo duite maksude 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: