Gorontalo, Bentor, Dan Masuk Angin

Setiap tempat adalah unik. Itu adalah sebuah tagline entah dari mana asalnya–lupa–yang saya percaya setiap mengunjungi tempat-tempat baru. Demikian pula yang saya pikirkan ketika saya pertama kali menjejakkan kaki di Bandara Djalaluddin Gorontalo. Hawa panas yang menyergap di tengah hari setelah saya keluar dari pesawat Garuda yang saya tumpangi tidak menyurutkan rasa penasaran saya tentang apa yang akan saya temukan nanti di kota Gorontalo.

Saat itu, hawa di Gorontalo memang sedang panas-panasnya. Rekan dari Gorontalo yang menjemput saya waktu itu sempat berkelakar bahwa ada tiga musim di Gorontalo: musim hujan, musim panas, dan musim panas sekali. Mungkin saya saat itu sedang kebagian musim panas sekali sewaktu tiba disana.

Gorontalo adalah Provinsi yang boleh dibilang baru yang merupakan hasil pemekaran dari Provinsi Sulawesi Utara. Ibukotanya adalah Kota Gorontalo. Selama dua malam saya di Gorontalo, hidup saya praktis hanya berkutat di seputar kantor di sana (karena memang saya mengunjungi Gorontalo dalam rangka urusan dinas), dan di sekitar Hotel Maqna yang berada satu lokasi dengan Mal Gorontalo di kawasan Gorontalo Business Park. Ada beberapa kesempatan berkeliling-keliling kota, tetapi saya tidak belum menemukan tempat-tempat menarik. Demikian pula dengan kuliner. Ada beberapa kesempatan berkuliner ria tetapi nampaknya saya tidak belum menemukan kuliner yang benar-benar khas dari sana. Memang ada beberapa oleh-oleh yang bisa ditemukan di toko cinderamata seperti kue Pia (yang saya yakin rasanya 99% mirip dengan bakpia di Jawa) dan kain Kerawang. Namun selebihnya, saya hampir menganggap kunjungan saya ke Gorontalo kali ini benar-benar tidak menarik, sampai akhirnya saya menemukan benda ini di mana-mana: Bentor! Di mana-mana ada bentor, bentor, dan bentor!

Bentor ini akronim dari becak motor. Berbeda dengan becak motor di Medan yang berbentuk sepeda motor utuh dengan tempelan kabin penumpang di samping, bentor Gorontalo ini benar-benar hybrid antara becak dan sepeda motor (bebek), bagian depannya berbentuk seperti becak, dan bagian belakangnya seperti sepeda motor pada umumnya.

Tipikal suasana jalanan kota Gorontalo. Lengkap dengan bentor yang melintas.

Tipikal suasana jalanan kota Gorontalo. Lengkap dengan bentor yang melintas.

Keberadaan bentor di Gorontalo ini tidak diakui resmi oleh pihak berwajib, namun demikian sepertinya bentor telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Gorontalo. Selain memberikan solusi alat transportasi yang cepat dan murah meriah bagi masyarakat (entah saya kurang memperhatikan atau tidak, tapi rasa-rasanya saya tidak melihat ada angkot di kota ini, apalagi taksi), memberikan nafkah bagi pengemudinya, bentor juga berubah menjadi ladang usaha menggiurkan bagi pengusaha lokal yang menjual jasa bengkel perakitan bentor.

Ketika malam mulai menjelang, keberadaan bentor-bentor ini semakin menjadi-jadi. Di sekitar lokasi saya menginap di sekitar Mal Gorontalo, bentor-bentor ini mudah ditemukan sedang mangkal di sudut-sudut jalan. Beberapa lalu lalang di jalanan mengantar penumpang, beberapa kembali ke tempat mangkal setelah mengantar penumpang. Yang menarik, selain bentor “biasa” dengan spesifikasi yang “biasa-biasa” pula, beberapa pemilik bentor memodifikasi bentornya dengan penambahan instalasi sound system yang tidak main-main. Entah apa motivasi para pemilik bentor ini memasang peralatan sound system di bentornya. Yang jelas, jangan heran ketika anda lewat di jalanan Gorontalo dan menemukan bentor melaju di jalanan dengan irama musik dance yang jedak-jeduk yang hampir bikin jantungan. Tidak kalah dengan anak-anak muda ibukota yang hedon dengan sound system ribuan watt di mobilnya. Bagi saya, ini adalah sebuah ambience yang unik ketika jalanan yang tidak terlalu ramai dipenuhi suara jedak-jeduk musik kencang yang berasal dari kendaraan beroda tiga yang hilir mudik.

Keberadaan bentor-bentor yang unik ini tentu rasanya sayang kalau dianggurin begitu saja. Bersama rekan kantor yang lain, kami sepakat untuk nyobain safari malam berkeliling-keliling kota dengan bentor.

Mari naik bentor. Hati-hati masuk angin :D

Mari naik bentor. Hati-hati masuk angin.

Bepergian dengan bentor ini tidak butuh ongkos mahal. Hanya yang unik, tarif dihitung per kepala. Jadi apabila anda bernegosiasi dengan pengemudi bentor untuk berpindah dari lokasi A ke lokasi B dan disepakati tarifnya adalah sepuluh ribu rupiah, jika yang naik bentor ada dua orang maka si pengemudi bentor akan menerima pembayaran sebesar dua puluh ribu rupiah setelah sampai di tempat tujuan.

Saking penasarannya saya dengan kendaraan ini, di hari terakhir kunjungan saya di Gorontalo alih-alih memakai jasa travel yang mahal dari hotel, saya malah nekat memakai jasa supir bentor ini menuju Bandara Djalaluddin yang berjarak sekitar 30-35 kilometer dari kota. Kebetulan saya menjadwalkan pulang lebih awal dari rekan anggota tim yang lain karena ada suatu keperluan. Jadi, apa salahnya untuk sedikit berpetualang? 😀

Setelah sedikit bernegosiasi dan mendapat harga yang cocok (saya lupa berapa harganya, yang jelas murah banget, lebih murah dari taksi di Jakarta) akhirnya jadilah saya seperti turis kenorakan melenggang dengan bentor selama sekitar satu seperempat jam perjalanan. Cuman yang saya tidak perhitungkan, saya lupa bahwa bentor ini bukan becak biasa seperti yang ada di Jawa yang digowes dan berjalan pelan dengan sensasi angin semriwing sepoi-sepoi dari depan. Ini ben-tor, dengan tenaga mesin dan berkecepatan berkali-kali lipat dari becak tenaga manusia. Angin dari depan udah bukan semriwing lagi, tapi bisa bikin masuk angin. Sepertinya sih bentor ini dilengkapi penutup kabin penumpang untuk melindungi penumpang dari hujan atau angin seperti becak pada umumnya lah ya. Tapi saya sendiri tidak begitu ngeh dengan keberadaan penutup ini dan terus melenggang di kabin penumpang bersama deru suara mesin bentor. Awalnya angin yang bertiup dari depan tidak begitu saya pedulikan. Tetapi setelah jauh meninggalkan kota dan anginnya bertiup lebih kenceng, rasa-rasanya lama kelamaan kok kulit makin merinding ya 😀 Ya kira-kira bayangin aja lah naik motor ke luar kota dengan kecepatan sedang tanpa jaket dan helm. Tapi toh ternyata saya betah juga di atas jok sampai akhirnya dengan selamat memasuki gerbang bandara Djalaluddin, walaupun badan menggigil dan mulai bersin-bersin. 😀

Tapi saya belum kapok mengunjungi Gorontalo. Bila ada kesempatan lagi mengunjungi kota ini, ingin rasanya mengeksplor lebih dalam tempat-tempat atau hal unik lain yang ada di sini. Karena seperti yang sudah saya sebutkan di awal tulisan ini, bahwa setiap tempat adalah unik.

Salam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: