Merasakan Gamblangnya Kelezatan Nasi Jamblang Kota Udang

Akhir pekan yang lalu saya menyambangi kota Cirebon dalam rangka sebuah urusan keluarga. Saya selalu senang berkunjung ke kota ini karena Cirebon adalah kota yang unik dengan budaya khas yang merupakan campuran dari banyak budaya. Tapi tidak hanya itu saja, sebenarnya sih yang paling membuat saya kemarin bersemangat untuk mengunjungi kota ini lagi adalah karena ingatan saya yang baik tentang kekayaan kuliner yang ada di Cirebon. 😀 Empal Gentong, Tahu Gejrot, Mie Koclok, Nasi Jamblang, juga sate kambing yang bersahaja di pinggiran jalan raya Babakan, adalah beberapa contoh pusaka kuliner Cirebon yang sukses membuat saya kangen. Tapi entah kenapa, kemarin saya begitu rindu dengan Nasi Jamblang, sehingga kali ini saya mau fokus ngoceh tentang Nasi Jamblang saja. 😀

Nasi Jamblang ini sebenernya bukan hidangan wah yang gimanaa, gitu. Malah cenderung sederhana. Nasi Jamblang ini tidak ada hubungannya dengan buah Jamblang, tetapi lebih mengacu pada nama tempat asal hidangan ini yang dari desa Jamblang di dekat Cirebon. Konon, awalnya Nasi Jamblang ini adalah ransum para buruh pabrik gula di pinggiran Cirebon pada masa kolonial dulu. Ada juga yang bilang awalnya Nasi Jamblang adalah makanan para pekerja pembangunan Jalan Raya Daendels alias De Grootpostweg. Saat itu nasi dibungkus dengan daun jati supaya tidak mudah sobek serta menjaganya agar tidak cepat basi serta nasi tetap pulen. Di masa kini, bungkus Nasi Jamblang tetap dipertahankan menggunakan daun jati. Selain untuk mempertahankan orisinalitasnya, daun jati ini juga memberikan aroma wangi tersendiri bagi nasi yang dibungkus di dalamnya.

Nasi Jamblang

Nasi Jamblang

Di Cirebon, tidak susah menemukan Nasi Jamblang. Di berbagai sudut kota banyak spot jualan Nasi Jamblang yang bisa anda coba. Ada Jamblang Mang Dul dekat Mal Grage, ada Jamblang Bu Nur di Jl. Cangkring, Jamblang Bu Sumarni dekat Pelabuhan, Jamblang Ibad Otoy, dan masih banyak lagi yang lain yang mungkin kalah ngetop dari nama-nama yang saya sebutkan tadi.

Kalau dipikir-pikir, Nasi Jamblang ini mengingatkan saya dengan Nasi Kucing Jogja dalam hal ukuran. Iya, sebungkus Nasi Jamblang ini porsinya sebelas duabelas dengan Nasi Kucing, sama-sama seuprit. Jadi ketika anda pertama datang memesan nasi, jangan minta satu bungkus. Satu bungkus aja mah cuman bisa buat ngotor-ngotorin gigi. 😀 Minimal pesenlah tiga. Bedanya yang lain dengan Nasi Kucing, jika Nasi Kucing lauknya lebih minimalis, maka Nasi Jamblang ini lauk pauknya lebih bervariasi yang bisa anda pilih sesuka hati. Mulai dari tempe goreng yang berukuran tebal, semur tahu, paru goreng yang garing, perkedel kentang, perkedel jagung, sate kentang, blakutak (cumi yang dimasak dengan tintanya), dan masih banyak yang lain. Setelah anda memilih lauk, hidangan telah siap jika sudah mencolek sambal.

Jamblang1

Nasi Jamblang Bu Sumarni (Nasi Jamblang Pelabuhan)

Cara yang paling tepat untuk menikmati Nasi Jamblang adalah dengan datang langsung dan makan di tempat. Aroma nasi hangat yang dibungkus daun jati, ditambah sensasi berbaur bersama pelanggan lain dan kebingungan memilih lauk yang nampak enak-enak semua adalah pengalaman kuliner yang bikin kangen dan susah dilupakan. Terlebih lagi, harganya pun relatif ringan di kantong. Makan kenyang, hati pun senang. Jadi, tunggu apa lagi? Mari ke kota udang berburu jamblang! 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: