Cerita Tentang Stasiun Tua, Anak Laki-Laki Kecil, Dan Kereta Api Kesayangannya

Bagian Pertama

Lasem, akhir dekade 80’an. Seorang anak lelaki kecil gelisah memandang keluar dari jendela rumahnya. Waktu telah jauh meninggalkan tengah hari, namun pandangan anak lelaki kecil ini seakan tak pernah mau lepas dari jendela. Sepertinya sedang menunggu-nunggu datangnya sesuatu. Sesuatu yang selalu ditunggu-tunggunya setiap hari, di titik yang sama, di kejauhan di seberang jalan sana. Jalur pantura memang selalu ramai dengan kendaraan yang berlalu-lalang. Bus, truk, mobil pribadi, semua bergantian hilir mudik melewati jalan itu. Tetapi bukan, bukan bus ataupun truk yang dicari si anak laki-laki kecil itu. Ada hal lain yang lebih menarik perhatiannya yang kini sedang ditunggunya dengan gemas.

Pukul dua siang. Anak laki-laki kecil itu masih terdiam di balik jendela, ketika sayup-sayup terdengar suara gemuruh dari kejauhan. Gemuruh suara-suara besi yang beradu. Ketika suara tersebut terdengar semakin keras disertai bunyi terompet yang panjang, tiba-tiba muncullah kelebatan benda panjang bersambung-sambung yang melesat cepat, terlihat samar dari kejauhan, dan langsung menghilang di balik rumah-rumah penduduk. Anak laki-laki kecil itu terlihat gembira. Itulah benda yang ditunggu-tunggunya. Kata orang tuanya, benda itu kereta api namanya, walaupun anak laki-laki itu belum pernah sekalipun melihat apinya. Anak laki-laki kecil itu tidak pernah melihatnya dengan jelas, karena tempat kereta api itu melintas berada jauh di seberang jalan sana. Akan tetapi dia tau persis, kereta api itu pasti lewat dua kali dalam sehari, ke arah kota pada pukul 10 pagi, dan kembali lagi pada pukul dua siang. Sehingga di waktu-waktu tersebut anak laki-laki kecil itu selalu menunggunya dari balik jendela hanya untuk melihat sosoknya walau hanya beberapa detik. Pertanyaan demi pertanyaan berkecamuk di benak anak laki-laki kecil itu setiap melihatnya. “Kemana kereta itu pergi? Bagaimana rasanya menaikinya?” Anak laki-laki kecil itu sering naik mobil atau bis, tetapi belum pernah sekalipun naik kereta api. Ingin sekali anak laki-laki kecil itu menaikinya, kereta api yang selama ini hanya bisa sekilas dilihatnya, untuk pergi melancong ke kota atau entah kemana. Pasti akan gembira hatinya.

Sayang sekali, hanya sampai disitulah kenangan anak laki-laki kecil itu tentang kereta api kesayangannya, kereta api berlokomotif kecil berwarna kuning hijau yang menarik gerbong kayu berjumlah dua atau tiga. Entah mengapa, kereta api itu tiba-tiba tidak pernah terlihat lagi dari pandangannya, walaupun ia selalu menunggunya di jam yang sama seperti biasanya. Hari demi hari ia menunggu dari balik jendela, berharap kereta api kesayangannya lewat lagi dengan membunyikan suara terompetnya. Akan tetapi, setiap saat itu pula ia kecewa. Kereta apinya tidak pernah datang lagi. “Kemana kereta api itu pergi? Mengapa ia tidak pernah datang kembali?”, hatinya bertanya-tanya dengan kecewa. Kata orang tuanya, kereta api selalu pergi ke stasiun. Tetapi anak laki-laki kecil itu belum pernah pergi ke sana. “Kelak aku akan mencarinya ke sana”, demikian pikirnya.

Bagian Kedua

Lasem, 2008. Seorang pemuda melangkah perlahan menghampiri sebuah bangunan tua. Bangunan besar dengan atap kayu yang di sana sini telah lapuk dimakan usia. Jauh bertahun-tahun yang lampau, bangunan itu menjadi pusat hiruk-pikuk kegiatan manusia dengan segala aktivitasnya. Orang-orang yang hendak bepergian, para pedagang yang menawarkan dagangannya, juga para pegawai yang sedang menjalankan tugasnya. Di tempat itu, kereta api biasa datang dan pergi, membawa dan menurunkan penumpang, juga barang. Ya. Itulah stasiun tua yang sejak kecil ingin dikunjunginya.

Stasiun Lasem, sisa kejayaan kereta api tempo dulu. Sekarang telah ditetapkan sebagai cagar budaya.

Stasiun Lasem, sisa kejayaan kereta api tempo dulu. Sekarang telah ditetapkan sebagai cagar budaya.

Tempat itu kelihatan berbeda dengan apa yang dilihatnya beberapa tahun yang lalu ketika ia masih duduk di bangku SMP. Ketika itu ia sering mengayuh sepedanya ke tempat ini, mengenang ingatan masa kecilnya tentang sebuah kereta api. Kereta api kesayangannya yang tiba-tiba menghilang. Ketika itu ia masih melihat barisan rel-rel yang hampir berkarat dengan kabel-kabel sinyal yang membentang di sisi rel, walaupun tiada lagi nampak kereta api di sana. Juga ada tiang sinyal yang dulu sering dilihatnya bergerak naik turun. Waktu itu, ia mencoba mencari-cari kereta api kesayangan masa kecilnya, barangkali tersembunyi di suatu tempat. Tapi tentu saja kereta api itu tidak ada di sana.

Pemuda itu masuk ke dalam. Ia melihat ke sekeliling. Tempat itu sepi. Jangankan kereta api. Batang-batang rel yang bercabang-cabang yang dulu pernah dilihatnya sudah tidak tampak satupun menempel di tanah. Yang ada hanya ada rumput, juga tanaman-tanaman liar. Tembok bangunan itu masih kokoh berdiri walaupun warnanya sudah kusam dimakan usia. Sebagian atap kayunya sudah jebol, meninggalkan lubang yang menganga. Jendela-jendela kayu besar masih nampak utuh, walau sudah mulai lapuk. Catnya juga sudah tidak jelas apa warna aslinya. Tetapi beberapa ornamen bangunan yang beraksen Tiongkok masih terlihat menarik dipandang mata. Itulah yang membuat stasiun tua itu lain daripada stasiun-stasiun lain di Jawa.

Sejenak pemuda itu larut dalam sepi. Ia membayangkan sebuah kereta datang berdentang-dentang dengan suara klakson yang memekakkan telinga. Lalu ia membayangkan orang sibuk berlalu lalang di peron, ada yang antri membeli karcis, ada yang duduk di ruang tunggu, ada pedagang nasi pecel yang menawarkan dagangannya, ada pula orang-orang yang baru turun dari kereta. Kemudian ada pula orang yang melambaikan tangannya pada kereta yang baru berangkat, mengantarkan salam untuk orang yang ada di dalamnya. Setelah beberapa lama ia termangu dalam imajinasinya, setengah mengeluh akhirnya pemuda itu beranjak pergi dengan sebuah kata memenuhi benaknya: “Seandainya…”

E P I L O G

Hadirnya kereta api di Indonesia pada awalnya tak lepas dari kepentingan pemerintah kolonial Hindia-Belanda untuk mendukung kegiatan militer serta pengangkutan hasil bumi dari daerah pedalaman. Berawal dari pembangunan jalur kereta api pertama di Semarang pada tahun 1864, sejarah kemudian mencatat 6.797 kilometer jalur rel berhasil dibangun di Jawa, Madura, dan Sumatera walaupun pada akhirnya sebagian jalur tersebut terpaksa ditutup dan kini hanya menyisakan 4.675 km yang masih beroperasi (Direktorat Jenderal Perkeretaapian, 2009).

Stasiun Lasem adalah satu dari sekian potret suram dunia perkeretaapian di Indonesia di dekade 70-80’an. Booming industri otomotif menyebabkan banyak jalur kereta api berumur puluhan tahun yang terpaksa ditutup karena sudah dirasa tidak efisien lagi setelah ditinggal penggunanya yang beralih pada alat transportasi jalan raya. Alasannya: mobil dirasa lebih praktis. Persaingan sengit antara alat transportasi jalan raya dengan kereta api ini terutama terasa di jalur-jalur kereta yang terletak bersisian di jalan raya. Hasilnya, ribuan kilometer jalur rel tidak lagi dilewati kereta. Bangunan-bangunan stasiun ditinggalkan dan dilupakan, juga dibongkar. Yang masih beruntung dibiarkan kosong dan merana hingga akhirnya lapuk dimakan zaman. Besi-besi rel dicabut, ditimbun, atau dimakan pelebaran jalan. Yang tersisa hanya tinggal kenangan penduduk setempat bahwa di wilayahnya pernah dilalui kereta api. Tak terkecuali Sasiun Lasem yang harus kehilangan nyawanya setelah resmi ditutup pada tahun 1989.

Stasiun Lasem Tempo Doeloe, hasil capture dari video "Spoorwegen: Nederlandsch-Indische Spoorwegen anno 1937" buatan Het Nederlandsche Filmarchief.

Stasiun Lasem Tempo Doeloe, dengan arsitektur unik pengaruh budaya Tiongkok. Foto ini adalah hasil capture dari video “Spoorwegen: Nederlandsch-Indische Spoorwegen anno 1937” buatan Het Nederlands Filmarchief. Video diunduh dari YouTube.

Roda terus berputar, zaman terus berganti. Jalan raya semakin sesak. Kisah-kisah jalan raya pantura yang selalu rusak dan selalu macet membuat orang memikirkan transportasi lain yang bisa diandalkan. Kereta api kembali dilirik lagi untuk bisa menjadi tulang punggung transportasi massal, utamanya di Jawa yang memang sudah penuh sesak. Apalagi, dibandingkan moda transportasi darat lainnya kereta api merupakan moda dengan konsumsi bahan bakar atau energi yang paling efisien ditinjau dari jumlah penumpang yang dapat diangkut maupun jarak perjalanannya.

Tabel Perbandingan Konsumsi Energi BBM/Km/Penumpang (sumber: Rencana Induk Perkeretaapian Nasional, Direktorat Jenderal Perkeretaapian, 2011)

Tabel Perbandingan Konsumsi Energi BBM/Km/Penumpang (sumber: Rencana Induk Perkeretaapian Nasional, Direktorat Jenderal Perkeretaapian, 2011)

Dalam Rencana Induk Perkeretaapian Nasional, Direktorat Jenderal Perkeretaapian mewacanakan reaktivasi jalur-jalur kereta api mati di Jawa, Madura, dan Sumatera hingga tahun 2030 mendatang; termasuk merencanakan pembangunan jalur-jalur kereta di luar Jawa dan Sumatera. Apabila ini memang bukan sekedar wacana, maka bukan tidak mungkin stasiun-stasiun tua seperti Stasiun Lasem akan menggeliat bangkit dari kubur dan kembali hidup dengan segala hiruk pikuk kehidupan ekonominya, seperti yang biasa disaksikan generasi sebelum sekarang, jauh bertahun-tahun sebelumnya.

Advertisements

6 comments

  1. Coba mas penulis menapaktilasi kembali stasiun kenangan itu…dilengkapi dengan ipod berisi musik-musik klasik Indonesia, lengkap dengan kemresek2 gramafon di musik klasik itu…. Pasti semakin menusuk hati..membawa ke masa laloe…

    1. Baiklah mas otodesain, nanti coba saya napaktilasi hari minggu pagi naik GL Pro ya. Pasti akan semangkin syahdoe.. 😀

  2. saya punya banyak dvd kereta api jadul dulu saya belinya copyannya

    di website http://www.dvdlangka.com

    salam

  3. Menarik ceritanya, kenangan itu akan selalu indah untuk diingat.. (y)

    1. Benar sekali mas. Terima kasih sudah mampir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: