Eksotisme Papua, Tidak Hanya Sekedar Papeda

Saya adalah model-model orang yang geographical minded, dalam arti selalu tertarik dengan fakta-fakta dan pengetahuan geografis serta tergila-gila dengan peta. Sejak kecil, gambaran peta Indonesia yang muncul tiap hari di TVRI saat diputarkan lagu Indonesia Raya amatlah menarik perhatian saya. Maka dari itu, saya sudah sedari awal menyadari betapa luasnya wilayah Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, dari Aceh hingga Papua. Makanya saya kaget juga ketika satu saat saya mendapat tugas dari kantor untuk menginjakkan kaki di Papua, negeri yang selama ini hanya saya kenal dari peta. Ditambah pengetahuan tentang suku-suku tradisional di sana yang katanya masyarakatnya masih primitif, hanya berkoteka, masih suka perang suku dan sebagainya dan sebagainya, belum lagi pemberitaan tentang kelompok separatis OPM yang tidak jarang melancarkan aksinya hingga menyebabkan korban jiwa. “Seru nih“, pikir saya waktu itu. Seru dalam arti excited karena bisa mengunjungi tempat baru, tetapi juga sedikit cemas karena pikiran dipenuhi kekhawatiran-kekhawatiran yang nggak beralasan sih sebenernya. Belum lagi, ada salah seorang anggota tim yang mengundurkan diri untuk berangkat karena alasan yang tidak jelas. “Bagus!”

Tetapi toh dengan bermodalkan Bismillah saya berangkat juga. Dan setelah terbang berjam-jam dengan Garuda akhirnya saya dan tiga anggota tim yang lain sampai juga di Bandara Sentani di suatu siang hari yang cerah–cenderung panas sih–di bulan Maret 2013. “This is it!”, kata saya dalam hati sambil nyengir lebar ketika menginjakkan kaki di tanah Papua.

Bandara Sentani ternyata cukup jauh dari pusat kota Jayapura. Jaraknya sekitar 30-an kilometer. Dan baru sebentar duduk di jok mobil yang kami tumpangi, kami sudah disuguhi pemandangan Danau Sentani yang saking luasnya hampir tampak seperti lautan.

Danau Sentani

Danau Sentani

Ketika sampai di Jayapura, saya cukup terheran-heran karena bayangan saya tentang kota Jayapura selama ini salah. Saya sebelumnya terlanjur membayangkan Jayapura sebagai kota yang kecil, sepi, dan paling-paling sedikit lebih besar dari Mamuju yang pernah saya kunjungi, plus pemandangan orang-orang Papua berkostum tradisional. Tapi rupanya saya salah besar! Jayapura adalah sebuah kota yang memang mencerminkan sebagai sebuah ibukota propinsi. Modern, dan mirip kota-kota di Jawa.

Sekilas kota Jayapura

Sekilas kota Jayapura

Ada yang unik di Jayapura yang tidak bakal anda jumpai di daerah lain. Di Jayapura, anda akan banyak menjumpai lapak pedagang yang menjajakan buah pinang di sepanjang jalan. Ya. Buah pinang. Masyarakat Papua pada umumnya gemar mengkonsumsi buah pinang. Buah pinang yang bentuknya kecil-kecil berwarna hijau ini dimakan isi buahnya tetapi hanya dikunyah-kunyah saja–tidak ditelan. Kunyahan buah yang lama kelamaan berwarna merah ini kemudian akan diludahkan begitu saja oleh masyarakat setempat. Maka tidak heran kalau di sana banyak dijumpai bercak-bercak berwarna merah yang diludahkan oleh pengkonsumsi pinang di sembarang tempat.

Jayapura adalah kota yang wilayahnya berkontur pegunungan, tetapi terletak di tepi teluk yang merupakan bagian tak terpisahkan dari Samudera Pasifik. Memandang laut tenang yang luas dan langsung berbatasan dengan cakrawala yang biru membuat betah untuk berlama-lama di sana. Semua tampak begitu teduh. Semua tampak begitu damai. Momen seperti inilah yang tidak bisa tidak lantas mengingatkan saya akan kebesaran Sang Pencipta yang telah melukis alam dalam kanvas semesta yang sedemikian eloknya.

Memandang Samudera Pasifik

Memandang Samudera Pasifik yang eksotik

Salah satu spot unggulan untuk menikmati pemandangan kota Jayapura dari ketinggian adalah Bukit Bhayangkara atau dikenal juga sebagai Bukit Pemancar TVRI. Disebut demikian karena memang terdapat pemancar stasiun TVRI di sana. Dari tempat ini ketika cuaca sedang cerah akan tampak kota Jayapura di kejauhan yang berpunggung pegunungan dan menghadap teluk. Konon katanya pemandangan di malam hari akan terlihat lebih eksotis dari sana karena kota Jayapura akan tampak bermandikan cahaya.

View Teluk Jayapura dari Bukit Pemancar TVRI

View Teluk Jayapura dari Bukit Pemancar TVRI

Lalu apa kuliner yang khas dari Papua ya? Karena belum mengantongi daftar referensi kuliner khas dari sana, saya dan anggota tim yang lain mengiyakan aja ketika diajak makan papeda oleh rekan dari kantor Jayapura. Papeda sendiri sebenernya umum dijumpai di daerah Indonesia Timur, karena saya juga pernah makan ketika berkunjung ke Kendari–yang disana disebut Kapurung. Papeda sendiri terbuat dari tepung sagu yang kemudian dimasak hingga mengental dan mengenyal seperti lem kanji. Rasanya? Hambar, dan rasa-rasanya seperti makan lem! 😀 Butuh usaha keras bagi yang belum terbiasa makan papeda untuk menelan gumpalan-gumpalan benda kenyal seperti lem itu. “Lah kalo begitu dimana enaknya dong makan papeda kalo rasanya cuman begitu doang?” Ya tentu saja enggak dimakan begitu aja lah. Umumnya papeda dihidangkan bersama hidangan pelengkap berupa sayur berkuah. Dan pada kesempatan kali ini saya nyobain makan papeda yang disajikan dengan kuah ikan kuning. Hmm, seger banget! “Mak legenderrr”, istilahnya Pak Bondan. 😀

Papeda dengan kuah ikan kuning

Papeda dengan kuah ikan kuning

Dua malam berada di Jayapura cukup meninggalkan kesan mendalam bagi saya. Sayang kami tidak sempat menjelajahi bagian lain dari Papua yang konon jauh lebih eksotik. Karena keterbatasan waktu dan biaya, angan-angan mengunjungi Lembah Baliem dan Suku Asmat cukup disimpan untuk lain waktu saja. Ekspedisi kami di Papua akhirnya ditutup dengan penerbangan Garuda via Timika dan Denpasar. Apakah saya akan kembali lagi kesana suatu saat nanti? Kita lihat saja nanti. 🙂

Sesi narsis ketika transit di bandara Mozes Kilangin Timika

Sesi narsis ketika transit di bandara Mozes Kilangin Timika

Advertisements

2 comments

  1. Muhimmah · · Reply

    oalahhh iki to mbah..nice trip euy! papeda mirip kapurung kayaknya ya?
    kapan jalan2 ke soroako? 😀

    1. sama aja mak. paling sayurnya aja yang beda. jalan ke soroako? kalo ada yang nyeponsori siapa takut! 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: