Kisah Tentang Kantor, Wanita, dan Ombus-Ombus

Chapter I

Tiga tahun terakhir ini saya berjuang mencari nafkah di rimba Jakarta Raya. Kota yang bagi sebagian orang berarti harapan. Seperti cahaya yang bersinar terang menyeruak dari balik cakrawala di kala fajar. Tak heran Jakarta selalu dikerubuti kaum urban yang sedang menggantungkan asa dan harapan demi masa depan. Persis seperti laron yang berebutan mengerubungi lampu jalan setelah hujan. Dan salah satu dari laron-laron itu ya termasuk saya sendiri.

Kantor saya berada di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan. Sebuah kawasan perkantoran yang (katanya) elit di Jakarta dengan gedung-gedung tinggi menjulang, dengan orang-orang elit seperti saya yang bekerja di berbagai bidang, mulai dari sektor jasa, perdagangan, sampai pemerintahan. Semuanya berebut berladang, berburu dan meramu di kawasan ini, tidak sekedar untuk memberi arti bagi hidupnya masing-masing, tetapi juga demi memanen sejumlah rupiah, segenggam emas, dan sebongkah berlian untuk menyambung hidup.

Beberapa waktu yang lalu, pengamanan kantor tempat saya bekerja tidak seketat sekarang. Orang bebas keluar masuk dan berlalu lalang. Akibatnya, muncul orang-orang dari antah berantah yang secara ajaib masuk ke ruangan-ruangan dari lantai ke lantai menawarkan barang-barang A sampai Z. Kadang muncul pedagang barang-barang elektronik yang barangnya persis seperti dijajakan di metro mini. Ada juga cewek-cewek sales jam tangan berharga miring yang suka sok akrab. Kadang ada juga sales tempat hiburan, penjual kacamata, penjual alat-alat dapur, pedagang makanan, dan bahkan pedagang VCD bajakan! Ampun. Kantor kok kayak pasar.

Semenjak adanya pergantian pucuk pimpinan pada unit kerja yang saya tempati, pemandangan orang-orang ajaib tadi secara drastis menjadi berkurang, walaupun masih ada beberapa pedagang yang bisa berlalu lalang. Sebenarnya kadang saya suka kasihan melihat mereka. Kadang saya membayangkan, gimana kalau saya jadi orang-orang itu. Ngider kesana kemari menawarkan sesuatu produk. Alih-alih barangnya laku, baru nongol nyengir doang di pintu masuk aja para penghuni ruangan udah pada buang muka duluan. Dasar nasib. Makanya saya selalu menjaga untuk sesopan mungkin menolak apabila sudah ndak tertarik dengan barang-barang yang ditawarkan. Karena mereka ya sama seperti kita-kita. Hanya berusaha bertahan hidup di tengah rimba Jakarta ini. Meskipun kadang saya dan partner saya yang jail di ruangan kalo lagi kumat suka ngerjain sales yang tengil. Dengan semangat ’45 nanya-nanya ampe berbusa-busa dari A sampai Z sampai A lagi tentang produknya, tapi ujung-ujungnya gak beli dan berkelit dengan 1013 alasan (karena emang dari awal gak niat beli). Salah sendiri tengil. :p

Chapter II

Wanita itu muncul kembali di kantor pada suatu siang. Memang wanita itu cukup sering menyambangi kantor saya, menjajakan dagangannya berkeliling. Wanita itu adalah seorang ibu berumur setengah baya berperawakan agak gemuk, berpenampilan lusuh dan selalu menjinjing sebuah kotak kardus bekas wadah minuman ringan. Saya mengenal wanita itu mungkin hampir selama saya bekerja di kantor ini. Saya masih ingat ketika pertama kali melihatnya muncul di pintu ruangan dan bersuara: “Ombus-ombus, Bu”. Saya ingat bagaimana saya tertegun saat pertama kali mendengar kata asing itu. Hee? Ombus-ombus? Opo kuwi? Tidak perlu terlalu lama saya larut dalam penasaran, kemudian wanita itu menoleh kepada saya dan berkata lagi: “Ombus-ombus Nang, kue dari Medan.” Lalu saya manggut-manggut dan menyahut dalam hati “Oooo kue dari Medan..” Sebagai orang Jawa tulen, pantas saja saya terheran-heran pertama kali mendengar kata asing yang terkesan agak lucu di telinga itu. Abis jajanan yang saya tau dari Medan cuman bika ambon dan bolu meranti doang. 😀

Saya yakin wanita itu tidak pernah ikut mata kuliah teori marketing. Apalagi mengenal Rhenald Kasali atau Philip Kotler. Wanita itu juga tidak sekenes si mbak-mbak pedagang kue dalam menjajakan dagangannya. Produk yang dijajakannya juga terbatas tidak seperti kue-kuenya si mbak-mbak tadi yang lebih menarik dan berwarna warni. Akibatnya, saya lebih sering melihat ibu ini melangkah gontai karena lebih sering mendapat penolakan. Ada juga sih ibu-ibu di ruangan yang kasihan dan membeli dagangannya beberapa buah. Tapi sepanjang pengamatan saya, orang lebih sering berkata “Ndak Bu” ketika wanita ini menawarkan dagangannya. Malah terkadang beliau ini jadi bahan candaan dan ejekan orang-orang–di belakang tentu saja, nggak di depannya. Trenyuh ya? Tapi ibu ini tetap tidak patah semangat dan dengan wajahnya yang polos terus berkeliling menjajakan dagangannya.

Siang itu saya menjumpai wanita itu lagi. Sebelumnya saya sudah berniat membeli dagangannya barang satu atau dua biji saat wanita itu muncul. Dan ketika si Ibu ini nongol di pintu ruangan, saya langsung memanggilnya. “Berapaan ini Bu?”, tanya saya saat si Ibu menggelar dagangannya di meja dan membuka kardus jinjingannya. “Dua ribuan Nang,” jawab si Ibu. “Beli sepuluh ribu aja deh,” kata saya lagi. Dengan berseri-seri si Ibu ini mengeluarkan lima buah kue yang dibalut daun pisang ini dan mengemasnya dalam sebuah kantong plastik. “Jualannya ke mana aja Bu?” tanya saya. “Deket-deket sini aja Nang,” jawab beliau. “Ini segini abis semua Bu tiap hari?” tanya saya lagi. “Biasanya abis kok Nang.” Jawab beliau. Jadi, dalam kardus jinjingannya si Ibu ini membawa beberapa puluh buah kue Ombus-ombus. Sekitar 40-60 buah menurut beliau, saya lupa pastinya. Dan setelah transaksi selesai, lalu Ibu itu melangkah pergi dan berkeliling lagi. Waktu itu dagangannya tinggal sedikit yang tersisa.

Saya buka satu buah kue hasil transaksi tadi. Masih hangat. Ketika saya buka daun pisang yang membalutnya, terpancar aroma wangi. Jadi ternyata Ombus-ombus ini kalau di Jawa mirip-mirip dengan kue putu. Terbuat dari tepung beras, dengan isian gula jawa di dalamnya. Bedanya, ombus-ombus ini dibungkus dengan daun pisang. Enak kalau dimakan selagi hangat. Ombus-ombus sendiri menurut bahasa asalnya berarti “Tiup-tiup”. Jadi ceritanya, di daerah Siborong-borong di Tapanuli Utara tempat asal ombus-ombus, jajanan ini dijual selagi panas sehingga untuk memakannya harus ditiup-tiup dulu. Cocok buat teman ngeteh atau ngopi di sore hari!

Epilog

“Ombus-ombus Nang.” Saya agak tertegun mendengar suara yang saya kenal itu. Rupanya Ibu si penjual ombus-ombus yang muncul. Memang jam-jam beliau biasa nongol adalah sekitar sebelum jam makan siang. Karena kebetulan sedang sibuk, dan juga pas lagi nggak begitu kepingin jajan—maklum lagi diet, saya menggeleng sambil tersenyum. “Enggak dulu Bu”, kata saya. Tapi saya berjanji dalam hati, nanti sesekali saya akan beli lagi. Bukan karena suka banget sih, apalagi saya kurang suka jajanan manis, saya kan udah manis tapi untuk menghargai keberadaan orang-orang kecil seperti penjual Ombus-ombus ini. Seperti yang saya bilang sebelumnya, beliau ini yah seperti kita-kita juga. Mencoba bertahan hidup di tengah ganasnya rimba kehidupan ini. Banyak kok orang-orang seperti ini di sekitar kita. Orang-orang yang bekerja di sektor informal yang bekerja keras dan pantang meminta-minta walaupun hasilnya tidak seberapa. Dan inilah cara yang tepat untuk peduli dan menghargai keberadaan mereka: dengan menggunakan jasa/membeli dagangan mereka. Kalaupun tidak suka ataupun berkenan, jangan buat mereka sakit hati.

Oiya, nanti kalau anda kebetulan bertemu dengan penjual ombus-ombus yang saya ceritakan tadi, cobalah beli dagangannya satu atau dua. Lumayan enak kok rasanya. Tidak ada salahnya mencoba. 🙂

Ombus-ombus

Rupa Ombus-Ombus. Saya ndak sempet ambil foto, gambar minjem dari http://www.blogceria.com/userfiles/uploads/Ombus-ombus.jpg

 

Advertisements

3 comments

  1. pacarkecilku · · Reply

    jauhhhhhh, mending beli di pasar kranggan ajah! ;))

  2. Anjas Fanikovsky · · Reply

    yowis nek tuku aku njaluk yo :p

  3. broto · · Reply

    foto penjualnya mana mas bro…?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: