Lelo Ledhung & Romantisme Masa Lalu

Saya tidak habis pikir, kenapa ada beberapa lagu tertentu yang bisa begitu saja muncul dan berputar-putar terus menerus dalam kepala saya. Salah satunya ya ini, lagu Lelo Ledhung. Not demi not bermunculan di kepala dan membius saya sehingga tanpa sadar saya kadang sering terdengar menggumamkannya. Mungkin banyak yang mengenal lagu ini sebagai lagu tradisional masyarakat Jawa yang biasa didendangkan untuk meninabobokan anaknya. Saya sendiri tidak ingat sih apakah dulu ibu saya juga mendendangkan lagu ini kepada saya waktu saya kecil dulu. Tapi entah kenapa saya seolah-olah merasakan tenggelam dalam romantisme masa lalu ketika mendengar lagu ini. Terus terang ini bukan lagu biasa, bukan lagu Jawa biasa, dan bukan lagu nina bobo biasa. Dalam lirik-liriknya, kita akan menemukan nilai-nilai luhur, harapan dan doa, sekaligus simbol ketulusan orang tua dalam membesarkan anaknya yang seringkali penuh hambatan dan tantangan.

“Tak lelo lelo lelo ledhung, cep menenga aja pijer nangis; Anakku sing ayu (bagus) rupane, yen nangis ndak ilang ayune (baguse)”

Imajinasi saya melayang-layang membayangkan sebuah suasana pedesaan di Jawa, di depan sebuah rumah berdinding bambu, dalam temaram sinar lampu minyak pada suatu malam, ada seorang ibu yang sedang menggendong anaknya yang terus menerus rewel menangis seraya bersenandung: “Timang-timang anakku sayang, janganlah engkau menangis. Hilang nanti cantik/tampanmu kalau engkau menangis”

“Tak gadang bisa urip mulyo, dadiyo wanito (priyo kang) utomo; Ngluhurke asmane wong tuwa, dadiyo pandekaring bangsa”

Dalam hening malam yang ditimpali derik suara jangkrik, dan desir dedaunan yang tertiup angin, Ibu tersebut terus bersenandung dan mendoakan anaknya: “Semoga kelak engkau bisa hidup sejahtera dalam kemuliaan, nak. Jadilah engkau pribadi yang utama, pribadi yang istimewa, pribadi yang unggul dan berbudi pekerti luhur, sebuah pribadi yang mampu mengharumkan nama orang tua, juga mampu berbakti dan memberi arti bagi bangsa dan negara.”

“Wis cep menenga anakku, kae mbulane ndadari; Kaya buto nggegilani, lagi nggoleki cah nangis”

Dalam bayangan saya, Ibu tersebut menjadi agak gelisah. Sambil terus menggendong dan menenangkan anaknya yang menangis, dia bolak balik berdiri, lalu duduk di sebuah bale-bale bambu, lalu bangkit lagi seraya menunjuk ke arah bulan purnama yang bergelantungan di kelamnya langit malam. “Ayo tenanglah anakku, lihatlah disana rembulan bersinar terang laksana raksasa yang hendak menerkam anak-anak yang sedang menangis”

Sebenarnya awalnya saya sedikit terganggu dengan kata-kata dalam bait ini. Seolah-olah kalimat ini menyebarkan paranoid bagi anak-anak kepada penampakan bulan purnama. Lha wong mbulan kok dipadhakke koyo buto. Bulan kok disamain sama raksasa. Lantas saya berpikir-pikir lagi lebih jauh, sehingga sampai ke dalam sebuah hipotesis: mungkin makna yang terkandung dalam kalimat tersebut adalah bahwa bulan purnama adalah simbolisasi dari penguasa malam, dimana malam adalah simbol dari kegelapan. Dimana kegelapan identik dengan kejahatan atau sifat-sifat buruk yang disimbolkan dengan Buto alias raksasa. Sehingga menurut hipotesis saya, kalimat dalam bait tersebut mengandung makna sebuah pengharapan agar anak yang sedang digadang ini berani untuk melawan segala sifat-sifat buruk dalam dirinya maupun dalam lingkungan di sekitarnya sebagai lawan dari sifat-sifat baik yang telah disebutkan dalam bait sebelumnya.

“Tak lelo lelo lelo ledhung, wis cep meneng anakku cah ayu (bagus); Tak emban slendang batik kawung, yen nangis mundak ibu bingung”

Setelah sekian lama, si anak tak kunjung diam dan terus menangis. Tapi si Ibu tetap sabar. Dengan penuh kasih sayang, sang Ibu mengusap-usap wajah anaknya dan terus menenangkannya sampai akhirnya si anak tertidur. “Timang-timang anakku sayang, ayo nak cepatlah diam. Kan kubuai engkai dalam sehelai selendang batik kawung. Kalau engkau menangis terus Ibu nanti bingung.”

Saya sedikit penasaran dengan penggunaan batik kawung dalam lagu ini. Kenapa batik kawung? Kenapa bukan batik yang lain? Batik parangrusak misalnya? Kemudian saya menemukan bahwa penggunaan batik kawung dalam kalimat tersebut tentu bukan semata-mata untuk mencocokkan rima agar nyambung (batik kawung dengan ibu bingung), tetapi karena batik kawung sendiri ternyata mempunyai tempat tersendiri dalam tataran budaya masyarakat Jawa, dimana batik kawung mempunyai filosofi yang dalam tentang asal muasal penciptaan manusia serta simbol umur panjang dan kehidupan abadi. Kawung disebut juga aren atau kolang kaling. Buahnya yang manis, serta pohonnya yang tegak lurus tak bercabang melambangkan keagungan, keadilan, dan kebijaksanaan. Dalam motif batik kawung, penampang buah kawung disusun secara diagonal berjajar terpusat dan simetris sehingga membentuk ilusi optik seolah-olah terlihat seperti bunga yang memiliki empat kelopak. Bunga empat kelopak sendiri menyimbolkan bunga teratai yang memberikan makna kesucian. Perpaduan antara bentuk bunga dan buah membawa arti harapan dan kesuburan. Sedangkan keempat arah dari kelopak bunga juga merefleksikan empat arah mata angin yang akan membawa cahaya kebijaksanaan. (Anne Ahira, “Keanggunan Batik Kawung: Inspirasi Dari Alam”) Sehingga pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa dalam kalimat “tak emban slendang batik kawung” tersirat doa serta harapan orang tua yang begitu luar biasa kepada anaknya setelah dewasa nanti.

Yang jelas, saya mempunyai semacam ikatan emosional tersendiri dengan lagu ini. Peristiwa demi peristiwa di masa lalu ketika masih diasuh oleh ayah dan bunda seakan muncul secara gamblang bagaikan sebuah video yang di-rewind jauh ke belakang ketika mendengarkan lagu ini. Semoga kita tak akan pernah lupa dengan jasa-jasa orang tua yang telah mendoakan, membimbing, serta mengasuh kita tanpa lelah sejak kanak-kanak betapapun besar pengorbanannya, betapapun berat tantangannya, betapapun berliku jalannya, hingga kita seperti kita sekarang dengan peran kita masing-masing. Kelak, saya akan mendendangkan Lelo Ledhung juga buat anak saya nanti.. 🙂

(Excerpt from “Tak Lelo-Ledhung”, composed by Markasan, performed by Sruti Respati/Sa’unine String Orchestra. © Tembi Rumah Budaya)

Advertisements

2 comments

    1. emang diapain mas kok mak jleb? 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: