Sepenggal Cerita Dari Bumi Manakarra

Tulisan ini sekedar catatan dan dokumentasi perjalanan saya ke Mamuju beberapa waktu yang silam. Saya sebelumnya saya tidak pernah menyangka bahwa suatu hari saya akan nyasar ke tempat ini. Kota yang sekaligus menjadi ibukota Propinsi Sulawesi Barat inilah yang menjadi tujuan saya setelah saya dengan “terpaksa” menerima untuk sejenak ditugaskan oleh kantor di tempat ini.

Cara termudah dan tercepat menuju Mamuju adalah dengan pesawat udara. Sebelumnya, saya sempat senewen karena mengira untuk mencapai Mamuju hanya bisa ditempuh dengan berjam-jam melalui jalan darat dari Makassar. Berbagai kisah mengenai begal dan bajing loncat yang sering menghadang di kegelapan malam cukup membuat hati saya kecut. Tapi saya akhirnya bisa bernapas lega setelah mengetahui ada penerbangan langsung menuju Mamuju dari Jakarta.

Sampai saat tulisan ini dibuat, hanya ada satu penerbangan langsung yang melayani rute Jakarta – Mamuju yang disediakan oleh maskapai Lion Air. Maksud saya “penerbangan langsung”, bukan dari Jakarta langsung mendarat di Mamuju, tetapi hanya sekali beli tiket untuk penerbangan yang terbagi menjadi dua sesi: Jakarta-Makassar dengan Lion Air dan Makassar-Mamuju dengan Wings Air. Sebenarnya ada juga Merpati yang melayani rute Makassar-Mamuju, tetapi berdiri sendiri dan tidak tersambung dengan penerbangan dari Jakarta.

Pesawat Wings Air seri ATR 72-500 yang saya tumpangi memakan waktu sekitar 50 menit untuk menempuh perjalanan dari Makassar menuju Mamuju. Pesawat berbaling-baling berkapasitas 72 orang ini diluar sangkaan saya mampu meluncur dengan nyaman sampai akhirnya mendarat di bandara Tampa Padang Mamuju.

Ada hal yang mencengangkan ketika saya pertama kali menjejakkan kaki di bandara Tampa Padang. Bandara ini tampak sepi, tidak terlihat banyak kegiatan. Ketika saya masuk ke dalam bangunan bertuliskan ARRIVAL, saya lebih terheran-heran lagi karena bangunan tersebut kecil, dan bersekat-sekat papan tripleks. Seperti kantor kelurahan di desa terpencil. Bagasi diambil langsung dari trolley bagasi oleh masing-masing pemiliknya secara swalayan. Tidak ada ban berjalan. Wow, ini bandara di ibukota propinsi!

Dsc_0238Dsc_0239Dsc_0407

Wings Air ATR 72-500 dan kegiatan di Bandara Tampa Padang

Kota Mamuju yang berjarak sekitar 35 km dari bandara juga tak kalah mencengangkan. Sepi, sama sekali tidak nampak seperti sebuah ibukota propinsi. Malah lebih tampak seperti kota-kota kecil di Jawa. Tidak tampak banyak gedung-gedung tinggi menjulang. Tidak ada bioskop XXI, dan jangan mencari mall. Tidak ada macet, karena jalanan lebih sering tampak lengang. Di beberapa bagian di dalam kota bahkan jalanan tampak rusak berat. Tapi saya sempat terkejut karena disini ada taksi. Ya, taksi seperti yang ada di kota-kota besar di Jawa. Taksi sedan, dengan argo, walaupun katanya hanya ada 10 unit. Saya tidak melihat banyak angkutan umum yang lain, hanya sesekali melihat kendaraan minibus plat kuning, becak, dan ojek. Berjalan-jalan memutari kota ini tidak perlu waktu berhari-hari, karena hanya dalam waktu setengah jam anda sudah bisa melihat seluruh isi kota dari ujung yang satu ke ujung yang lain, dan kembali lagi ke tempat awal sewaktu berangkat.

Dsc_0364Dsc_0400Dsc_0395Dsc_0378

Beberapa landmark kota Mamuju

Ibarat manusia, kota Mamuju sebagai ibukota propinsi memang seperti bayi yang sedang belajar merangkak. Kota ini sedang berbenah. Berbagai pembangunan infrastruktur sedang dikerjakan disini. Konon harga tanah di kota membubung tinggi. Dan banyak orang Mamuju menjadi kaya mendadak. Propinsi Sulawesi Barat seperti sebuah “propinsi kaget”, dan banyak orang Mamuju yang juga terkaget-kaget dengan perubahan status kotanya menjadi ibukota propinsi.

Dsc_0294

Kantor Gubernur yang baru. Contoh pembangunan sarana-prasarana yang sedang digalakkan di kota ini.

Tidak sulit menemukan akomodasi di Mamuju. Ada beberapa hotel disini. Yang sempat saya lihat adalah penginapan Srikandi, Samudera Beach, Hotel Mutiara, dan hotel tempat saya menginap, d’Maleo. Hotel d’Maleo yang saya tempati adalah hotel bintang tiga, dengan pelayanan standar hotel bintang tiga pada umumnya. Asyiknya, hotel ini terletak di pinggir pantai, dan kebetulan saya mendapat kamar dengan view menghadap pantai 😀

Dsc_0288Dsc_0324

Hotel tempat saya menginap dan view pantai Manakarra dari jendela kamar

Mamuju adalah sebuah kota pesisir. Tak heran, iklim dan kehidupan pesisir mendominasi kota ini. Tetapi posisi geografis Mamuju cukup unik karena walaupun berada di garis pantai, namun sedikit masuk ke dalam kita akan menjumpai kontur tanah perbukitan. Tapi tetap saja udara di Mamuju terasa panas menyengat, seperti daerah pesisir pada umumnya.

Dsc_0265Dsc_0356Dsc_0352Dsc_0394Dsc_0404

Pantai Manakarra dan kontur tanah Mamuju dan sekitarnya

Tidak banyak kuliner khas dari Mamuju. (Atau malah tidak ada?) Karena Mamuju adalah daerah pesisir, banyak dijumpai rumah-rumah makan yang menyediakan olahan ikan laut segar. Selebihnya, kuliner Mamuju banyak didominasi oleh kuliner khas Makassar. Dan yang sedikit mengherankan, lebih banyak lagi warung-warung makan jawa di seantero kota. Rupanya di Mamuju banyak juga pendatang dari Jawa. Agak geli juga jauh-jauh ke Mamuju malah beli nasi goreng mawut. 😀 Untungnya, saya masih sempet menikmati Sara’ba (sejenis bandrek) ditemani aneka gorengan hangat di tengah dinginnya malam. Tidak lupa mencicipi Mie Titi (sejenis ifumie) khas Makassar.

Dsc_0240Dsc_0311Dsc_0244Dsc_0245Dsc_0249Dsc_0246Dsc_0357

Kuliner Mamuju. Antara Sara’ba sampai nasi goreng mawut 😀

Berkunjung ke Mamuju kita akan sejenak melupakan kepenatan dari hiruk pikuknya kota. Tempat yang tenang, damai, dan jauh dari beringasnya kehidupan metropolitan. Serasa sedang di dunia antah berantah. Walaupun kalau lama-lama disini mati gaya juga sih kalau udah biasa hidup di kota besar :D. Sayang sekali saya tidak sempat menjelajah ke obyek yang lain seperti air terjun yang terletak beberapa kilometer dari kota. Yah, mungkin lain kali. Atau anda sendiri berminat kesana? 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: